banner 728x250

Lebih Dekat dengan Erik Tamalagi, Pulang Kampung, Berjuang untuk Aspirasi Rakyat di Tanah Mori

banner 120x600

MORUT- Yesiah Eri Tamalagi atau dikalangan kerabat, saudara akrab memanggilnya Erik Tamalagi.

Sebagai putra berdarah Mori Kabupaten Morowali Utara, Erik sejak menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Tadukalo sudah merantau di ibu Kota Jakarta menjadi wartawan di salah satu kantor Tv swasta di Jakarta kala itu.

Mengawali karir sebagai wartawan di koran harian tertua di Sulawesi Tengah Mercusuar, Erik muda tidak berpuas diri dan memilih melanjutkan karir wartawannya sebagai wartawan Tv swasta TPI, saat itu masih menjadi Biro Sulteng.

Tidak sampai disitu, Erik melanjutkan karir wartawannya di ibu Kota Jakarta. Selama di Jakarta dan bersama station Tv TPI, Erik kerab dikirim liputan-liputan perang dan konflik di kala itu, di antaranya Timor-Timor, Aceh dan beberapa liputan berat lainnya.
Bahkan dalam sebuah kesempatan Erik dipercayakan menjadi salah satu produser siaran kontestan dangdut paling bergengsi Kontes Dandut Indonesia (KDI) di TPI.
Tayangan KDI tidak hanya menjadi siaran yang paling ditunggu pencinta dangdut di Indonesia, tapi juga melahirkan bintang-bintang dangdut muda berbakat dari seluruh nusantara, dan Erik Tamalagi adalah salah satu orang yang mengasiteki KDI hingga menjadi tayangan memuncaki rating Tv Swasta di medio 2000-an.

Setelah pensiun dari dunia wartawan (TPI) Erik kemudian balik ke Palu dan Morut, dalam perjalanan waktu, Erik Tamalagi kemudian diangkat menjadi Staf Khusus Kementerian Pertanian (Mentan) RI di Era Sahrul Yasin Limpo dan Andi Arman Sulaiman.

Selama menjadi staf khusus Mentan RI, Erik banyak memberi perhatian untuk pengembangan pertanian di Sulteng, khususnya memotivasi anak muda untuk bertani.

Perjuangan Erik Tamalagi untuk daerahnya Sulteng, tidak berhenti sampai disitu, Erik kemudian mundur dari staf khusus Mentan RI karena terdaftar sebagai Calon Legislatif (Caleg) dari Partai NasDem untuk daerah pemilihan Morowali dan Morowali Utara untuk Caleg DPRD Sulteng.

Bukan tanpa alasan, Erik dipercaya oleh Partai NasDem untuk berjuang di Dapil Morowali dan Morowali Utara, karena Erik memiliki latar belakang sebagai putra Mori Morowali Utara yang sebelumnya menjadi bagian dari Kabupaten Morowali.

Morut dan Morowali tidak asing bagi Erik Tamalagi, ayahnya mendiang Datlin Tamalagi di saat Kabupaten Morowali belum dimekarkan menjadi Morowali adalah Wakil Bupati bersama Bupati Andi Muhammad, kemudian Datlin Tamalagi juga pernah menjabat sebagai Bupati Morowali. “Bagi saya Morowali dan Morut sama saja, karena saat saya kecil, remaja sampai pemuda saya bersama Papi (Datlin Tamalagi) banyak berdiskusi soal bagaimana Morowali dan Morut kedepan,” kata Erik di sela-sela kumpul ngopi bersama wartawan di Palu belum lama ini.

Bagi Erik sebagai putra daerah tanah lelulurnya Mori, Morowali dan Morowali Utara wajib diperjuangkan. Daerah yang begitu kaya dengan sumber daya mineral yang butuh putra daerah ikut ambil bagian dalam pengambilan-pengambilan keputusan, sehingga apa yang diharapkan masyarakat bisa diperjuangkan pada tempat yang tepat dan sebenarnya. “Berjuangnya yah, harus lewat lembaga DPRD. Makanya saya kembali ke tanah lelulur tanah Mori untuk berjuang melalui Pileg 2024. Daerah ini (Morut dan Morowali) harus diperjuangkan anak daerah untuk kemaslahatan anak daerah pula,” tegasnya.

Dengan modal didikan mendiang ibunya, Weringku Lameanda Tamalagi yang merupakan seorang pendidik (guru) di Kota Palu, Erik paham betul orang tua adalah petunjuk arah terbaik dan yang terpenting tak lupa asal usul darimana berada. Sehingga, ketika Erik kembali dari tanah rantau dan tiba di Palu, Morowali Utara dan Morowali yang pertama dilakukan adalah mendatangi dan meminta doa restu dari orang tua dari saudara ayah dan ibu, paman, bibi, kakak saudara bersaudara. “Apapun itu doa dan restu dari keluarga adalah kompas penunjuk arah untuk melangkah kedepan,” ujarnya.

Selamat berjuang bung Erik Tamalagi, saatnya kembali ke daerah dan buat daerah leluhur menjadi lebih baik untuk keterwakilan harapan-harapan masyarakat di Morowali Utara dan Morowali.**