Senin, 15 April 2024
banner 728x250

Dari Studi Tiru Kepsek ke Bantul.  Optimalisasi Merdeka Belajar, Kearifan Lokal sampai Pemanfaatn Medsos

MORIWANA.COM- Hari ini, Kamis (24/8) empat puluh dua kepala sekolah TK, SD dan SMP Morowali Utara tiba di Palu dan meneruskan perjalanannya balik ke tempat tugasnya masing-masing setelah selama dua hari (21-22/8) melakukan studi tiru di Kabupaten Bantul Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan agar para pimpinan sekolah bisa melakukan inovasi ditempatnya masing-masing.

Dari pengamatan redaksi, setiap akhir kegiatan harian diadakan diskusi dari catatan yang dilakukan setiap peserta apa yang menarik dan bisa dilakukan di Morowali Utara dari kegiatan studi tiru.

Salah satu peserta memberikan catatan dengan apa yang dilihatnya selama berada di SMP Negeri 1 Jetis, Bantul. Ditempat ini mereka terkesan dengan proses literasi lima menit diikuti dengan Tadarus pagi buat yang beragama Islam dan kajian Alkitab bagi yang beragama Kristen.
“Jadi ada pojok literasi dimana setiap anak membawa buku masing-masing. Buku ini dibaca dan dibuatkan resumenya setelah mereka selesai membaca. Ini selain membangkitkan minat baca siswa juga membuat para siswa terbiasa dalam menulis. Setelah proses literasi selama lima menit, siswa kemudian diberi asupan kerohanian sesuai agama masing-masing, lalu dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini wajib dilakukan,’ catat mereka.
Kearifan lokal juga menjadi hal yang sangat menarik perhatian tersendiri, “Budaya lokal termasuk hal yang sangat diperhatikan di sekolah ini. Karena budaya Jawa mendominasi disini, setiap Kamis Pahing ditetapkan sebagai hari menggunakan pakaian Jawa. Lalu ada juga lomba pidato dalam Bahasa Jawa, dan pidato mereka ini di pajang di sekolah. Untuk kelas 8 ada program membatik (belajar membuat motif batik diatas kain). Menariknya adalah hasil karya mereka ini akan mereka pakai diawal tahun pelajaran ketika naik kelas 9.”

Sejumlah tenaga pendidik yang bersama mengunjungi SMPN 1 Jetis mengakui apa yang mereka lihat tentang literasi dan numerasi di sekolah ini menginsprasi untuk bisa diterapkan diseklah mereka nantinya.
“Apa yang disampaikan rekan kami memang itulah yang kami saksikan. Saya takjub melihat rapor pendidikan mereka, literasi dan numerasi siswa mendapatkan nilai serratus. Ini menjadi catatan tersendiri bagi kami, karena nilai kami untuk literasi dan numerasi rata-rata merah. Pengalaman yang kami dapatkan disini menjadi contoh untuk memperbaiki nilai siswa kami. Pendampingan guru terhadap siswa menjadi hal penting, meski kita akui untuk literasi di Jetis factor penunjang seperti buku perpustakaan yang lengkap bahkan mereka juga punya perpustakaan digital. Ini tentu menjadi tantangan di Morowali Utara, karena murid murid disini mudah mendapatkan bacaan, saya bahkan penasaran dengan perpustakaan digital mereka.Ternyata perpustakaan digital ini memiliki satu aplikasi yang dipilih. Ini tentu saja membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk mewujudkannya,” kata tenaga pendidik lainnya.

Tenaga pendidik sekolah dasar juga punya kesan sendiri usai membaur di SD Islam Al-Azhar Yogyakarta, sekolah yang murni dikelolah Yayasan dengan tenaga pengajar sepenuhnya dibiayai yayasan dan tidak satupun ASN. Sekolah ini termasuk salah satu sekolah yang maju di Yogyakarta.
“Banyak hal tentu tidak bisa kita bandingkan dengan kondisi sekolah swasta kita di Morut. Tapi ada hal yang menarik saat kami berada disana dan bisa kita tiru. SD Al-Azhar tidak ada ruang guru, tapi membaur dengan dengan anak anak diruang kelas. Jadi diatas mejanya ada printer sekaligus laptop. Anak-anak diawasi dari situ dari sejak masuk sampai pulang. Lalu sekolah ini punya akun media sosial yang dikelolah guru/yayasan sehingga murid dan orangtua bisa ikut terlibat langsung didalamnya. Ini menjadi salah satu cara mengintenskan komunikasi antara pihak sekolah dengan murid maupun orangtua murid. Ini sangat bisa dilakukan ditempat kita, minimal sekolah punya akun Instagram syukur syukur kalau bisa punya akun youtube,” kata tenaga pendidik salah satu SD di Morut.

Peran Dinas Pendidikan dan pemerintah daerah terutama dalam mengalokasikan dana bagi sektor pendidikan diakui para peserta studi tiru berperan besar dalam menunjang keberhasilan terutama pada sekolah sekolah negeri. “Tapi beberapa inovasi dan kreatvitas yang memicu minat dan kreativitas siswa dalam menunjang proses belajar mengajar bisa kita tiru secara mandiri. Pokoknya luar biasa perjalanan kami ini dalam membuka hal hal baru yang bisa kami praktekkan nantinya,” aku mereka.

Kadis Pendidikan Morowali Utara dalam kesempatan teepisah sebelumnya mengungkapkan kegiatan studi tiru merupakan bagian dari upaya PemKab menyukseskan visi pembangunan Morut yang Sehat Cerdas Sejahtera.
“Studi tiru ini dimaksud memperkaya pengetahuan dan pengalaman para kepala sekolah mengenai kemajuan di tempat lain. Dari diskusi yang kami lakukan setiap selesai kegiatan, para kepala aekolah punya catatan sendiri yang mungkin mereka lakukan di sekolah masing masing,” kata Moh Ridwan Dg Malureng selaku Kadis Dikbud sekaligus penanggung jawab kegiatan bersama ketua rombongan Bernoulli Tanari, Pendamping Kepsek SD Moh. Fadly Abd. Pattah, S.Pd, Pendamping Kepsek SMP Jerry. J Barmo, Pendamping Kepsek TK Eli Sudradjab Petalolo. (OpTam)

banner 120x600